Skip to content


INNOVATE OR DIE

dsampaikan pada :

Sejarah Inovasi di Indonesia

Karaeng Pattingalloang (mertua Sultan Hasanudin) adalah perdana menteri dan penasehat utama Sultan Muhammad Said (1639-1653) dari Makasar. Seorang penyair Belanda Joost Van Den Vondel memujinya melalui tulisan berikut : “Wiens aldoor snuffelende brein, een ganse wereld valt te klein” (Orang yang pikirannya selalu dan terus mencari sehingga seluruh dunia rasanya terlalu sempit). Pada tahun tersebut beliau telah memesan ke Pemerintah Hindia Belanda :

 

  1. Dua bola dunia yang kelilingnya hingga 160 inchi terbuat dari kayu atau tembaga,

  2. sebuah peta dunia yang besar dengan keterangan dalam bahasa spanyol, portugis dan latin,

  3. sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia,

  4. dua buah teropong dengan tabung logam yang ringan,

  5. sebuah suryakanta yang besar dan

  6. 12 belas prisma segitiga untuk mendekomposisi cahaya,

  7. 40 buah tongkat baja kecil serta

  8. bola dari baja atau tembaga.

 

Setelah menunggu 3 tahun dari waktu pemesanan,  pada tanggal 15 februari 1648 benda-benda pesanan tersebut akhirnya dikirim ke Makasar. Yang membedakan Karaeng Patingalloang dengan orang lain adalah apa yang ada di kepalanya yang disebut Inovasi yang dipacu oleh rasa keingintahuan. Dan pada masanya keingintahuan tersebut berupa barang-barang yang dianggap langka merupakan sesuatu yang out of the box. Barang-barang “langka” tersebut ditukar dengan 11 bahar kayu cendana seharga 60 real tiap bahar sebagai uang muka. Bukan hanya karena nilai kayu cendana yang luar biasa berharga akan tetapi keinginan untuk memiliki barang-barang tersebut adalah sangat jauh lebih berharga.

 

Atlas, globe dan peta dunia adalah pencerminan keinginan putra Bugis ini untuk lebih mengetahui secara detail dunia dan keinginan untuk menjelajahinya. Seperti diketahui, orang Bugis adalah bangsa penakluk lautan dan bangsa penjelajah. Tidak menutup kemungkinan, seandainya pada masa itu hingga tahun- tahun berikutnya orang Bugis menyempurnakan data atlas dunia yang telah dimiliki dengan melakukan update data atas wilayah yang telah mereka jalani, maka akan semakin melengkapi detail dari atlas yang telah mereka pesan dari Hindia Belanda tersebut. Teropong, suryakanta dan prisma kaca adalah alat-alat dasar ilmu fisika yang ingin dikuasai pada masa itu. Seandainya visi besar sang Karaeng Patingalloang dapat dibumikan di bumi Makasar maka teknologi terapan akan muncul dari sana. Inilah sebuah sejarah zaman, yang merupakan pembuktian bahwa kita memiliki sense of scientific dan sensitifitas inovasi. Mungkin ada penggalan sejarah yang kita tidak tahu sehingga lanjutan dari sebuah visi besar tersebut belum terwujud menjadi sebuah teknologi maju pada hari ini.

 

Kebangkitan inovasi kita sebagai bangsa terjadi kembali pada 20 Agustus 1995, tatkala pesawat Turboprop N250 takeoff dan landing di landasan bandara Husein Sastranegara Bandung. N250 adalah Pesawat berpenumpang 50 orang dengan teknologi Fly by Wire merupakan pesawat tercanggih pada waktu itu dan lima tahun kedepan. Adalah seorang Baharudin Yusuf HABIBIE arsitek besar dan pencetak blue print teknologi maju bangsa Indonesia yang berhasil “menerbangkan N250″. Sekarang kita melihat keperkasaan teknologi dirgantara dan 7 industri strategis yang dirintis dan dikembangkan oleh BJ Habibie melalui film Habibie dan Ainun. Bukan drama romantisme antara keduanya yang kita tangisi, tetapi kita pantas menangis karena kemauan politik bangsa ini yang mengubur hidup-hidup teknologi super canggih yang telah dilahirkan. Bahkan kita pantas dan patut bersedih serta menangis tatkala melihat para pendekar-pendekar teknologi kita yang membidani kebangkitan teknologi N250 yang dipersiapkan melalui Program STAID dan STMDP (Program beasiswa studi lanjut bagi putra putri Indonesia yang pandai untuk studi ke universitas elit di Eropa, Amerika dan Jepang) saat ini bertebaran dibeberapa perusahaan industri strategis di negara lain. Bahkan mereka yang terpaksa pulang ke Indonesia harus menelan pil pahit, karena tenaga dan pemikirannya tidak digunakan lagi. Sehingga banyak para alumni dari luar negeri tersebut bekerja di perusahaan-perusahaan asing yang instal di Indonesia. Mungkin ada penggalan sejarah politik yang kita tidak tahu, sehingga visi besar BJ Habibie harus diakhiri dengan tanpa bekas.

 

Namun ada satu Inovasi yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda yang sampai hari ini masih bisa kita nikmati, yaitu : bangunan fisik berupa : Gedung, Benteng dan Jalan raya. Salah satu yang terkenal adalah Grote Postweg yang membentang dari Anyer sampai Panarukan. Menjelang Perang Dunia I, mata dagangan Ijzer en Staal adalah yg terbesar produk yang diimpor oleh Belanda sebesar 6.550.000 Gulden. Tidak kurang dari 5.695.000 Gulden darinya adalah untuk Pulau Jawa. Besi yang jaman dulu dipakai membuat senjata makin lama digunakan sebagai alat pertanian yang akhirnya digunakan untuk membabat hutan di Tanah Jawa yang mengubah sama sekali wajah pulau Jawa. Adalah kesaksian Charles Francois Tombe, seorang perwira prancis yang ditugasi oleh Daendels untuk membuat peta di tanah Jawa : Dari jalan setapak Mataram menjadi Jalan Pos Raya Daendels, bahwa adalah cukup beralasan dengan pertimbangan strategi ekonomi kolonial agar budidaya kopi bisa berkembang dengan biaya angkut yang dapat ditekan dengan murah melalui lintas darat. Meskipun jalan tersebut tidak dapat menahan pendaratan Inggris di Jawa, namun jalan tersebut telah mengubah kondisi kehidupan ekonomi dan pemerintahan di Jawa. Karena munculnya jalan-jalan penyambung ke daerah yang masih perawan, munculnya pedagang-pedagang perantara, dan dibukanya perkebunan dan persawahan baru. Sebuah catatan sejarah zaman, yang membuktikan bahwa sumber daya alam kita menyajikan untaian bahan untuk melakukan inovasi.

 

Man of the Year Versi Majalah Time : YOU

Posted in Uncategorized.


0 Responses

Stay in touch with the conversation, subscribe to the RSS feed for comments on this post.



Some HTML is OK

or, reply to this post via trackback.